Untuk mengobati syaraf terjepit, kini ada metode medis terbaru yakni percutaneous endoscopic lumbar disectomy (PELD). Tujuannya menghilangkan tekanan herniasi diskus pada saraf sekitar tulang belakang. Prosedur ini hanya mengakibatkan sayatan kecil pada kulit, memberikan manfaat dan kenyamanan pada pasien secara lebih baik di banding teknik bedah konvensional. Selain luka sayatan yang minimal (Minimally Invasive Spine Surgery), pada pasien dengan kontra indikasi untuk dilakukan bius total, teknik ini dapat dilakukan dengan menggunakan bius lokal. Pasien juga tidak harus berlama-lama di rumah sakit atau klinik karena dapat juga dilakukan one day care. Seperti namanya, PELD dilakukan melalui prosedur endoskopi.

Dokter akan membuat sayatan kecil di kulit sebesar 7 mm, selanjutnya masuk ke dalam menuju foramen. Foramen merupakan area yang kaya akan persarafan. Di lokasi ini juga tempat yang kemungkinan banyak terjadi jepitan saraf yang menimbulkan rasa nyeri pada pasien, jelas dr. Mahdian Nur Nasution SpBS PELD juga biasa disebut dengan teknik stich less surgery, karena teknik ini tidak membutuhkan jahitan setelah prosedur dilakukan.

Tidak seperti operasi lainnya, yang memerlukan jahitan di akhir prosedur, tambah dr. Mahdian. Dahulu pada teknik operasi konvensional, untuk dapat mencapai daerah saraf yang terjepit, seorang dokter harus melakukan banyak sayatan, mulai dari sayatan di kulit, sayatan di otot, sayatan/ pemotongan tulang lamina, baru meniyisihkan saraf-saraf dan terakhir mengkoreksi bantalan tulang yang menjepit. Tahapan yang harus dilakukan tadi, tentunya akan mengakibatkan trauma jaringan. Dengan teknik endoskopi, hal ini tidak dilakukan lagi, jelas dr. Mahdian. Teknik operasi konvensional juga mengakibatkan perdarahan yang lebih banyak, dibandingkan jika dilakukan dengan teknik endoskopi.

Resiko Lebih Kecil

Selain itu risiko untuk terjadinya infeksi pada teknik operasi konvensional juga lebih besar. Pemotongan tulang lamina pada teknik konvensional dikemudian hari dapat mengakibatkan masalah instabilitas tulang hingga kekuatan tulang yang menurun. Teknik endoskopi juga tidak perlu memotong ligamen yang berfungsi sebagai penyangga tulang, jelas dr. Mahdian.

Risiko kambuh kembali, juga lebih kecil pada teknik endoskopi karena tidak menganggau stabilitas tulang belakang. Dengan teknik endoskopi risiko perlengketan juga tidak ada, Perlengketan sering terjadi pada teknik konvensional, jelasnya. Belum lama ini sebuah penelitian dilakukan untuk melihat efikasi PELD pada 100 pasien dengan herniasi diskus lumbar yang telah gagal dengan terapi konvensional. Usia pasien bervariasi antara 15-84 tahun. Setelah PELD, follow up pasien dilakukan untuk mengetahui out come, kualitas hidup pasien, fungsi neurologis dan komplikasi yang mungkin ditimbulkan paska PELD.

Hasilnya sebanyak 97 pasien mengalami perbaikan cukup signifikan pada derajat nyerinya dari Visual Analog Score 8.2 turun menjadi 1.8 paska tindakan PELD. Lama perawatan rata-rata selama 1,6 hari. Tindakan PELD dilakukan dalam waktu sekitar 45 menit. Setelah tindakan PELD pasien juga dapat beraktivitas seperti sediakala.

 

Segera konsultasikan keluhan nyeri Anda di Klinik Nyeri dan Tulang Belakang.

KONSULTASI GRATIS (WA Only)

082213116661 (Dr. Mahdian)
085921277477 (Rika)
081381847320 (Karina)

ALAMAT

Arfa Pain and Spine Care RS Meilia Cibubur
Jl Alternatif Transyogi Km 01 – Depok
Lantai 2, 0813 8184 7320

Klinik Nyeri dan Tualang Belakang
Jl Jati Barat No 7A, Jakarta Selatan
Telp. 021 791 96 999

 

sakit pinggang, pengobatan syaraf kejepit, syaraf kejepit, endoscopy, endoscopy peld, spine, orthopedic surgery, scoliosis, low back pain, lower back pain, back pain relief, endoskopi tulang belakang, saraf terjepit, dr mahdian nur nasution, klinik nyeri dan tulang belakang, operasi peld, operasi peld di indonesia, dr mahdian, peld indonesia, cara menyembuhkan saraf terjepit, herniasi diskus, klinik onta merah, peld, teknik peld, dokter mahdian, dr.mahdian, peld surgery

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here